Tipe Wirausaha

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Tipe Wirausaha

Post  RoxaR on Thu Oct 16, 2008 5:28 pm

1. Menjadi wirausahawan mandiri
Untuk menjadi seorang wirausahawan mandiri, berbagai jenis modal mesti
dimiliki. Ada 3 jenis modal utama yang menjadi syarat :
· Sumber daya internal, yang merupakan bagian dari pribadi calon
wirausahawan misalnya kepintaran, ketrampilan, kemampuan
menganalisa dan menghitung risiko, keberanian atau visi jauh ke depan.
· Sumber daya eksternal, misalnya uang yang cukup untuk membiayai
modal usaha dan modal kerja, social network dan jalur demand/supply,
dan lain sebagainya.
· Faktor X, misalnya kesempatan dan keberuntungan. Seorang calon
usahawan harus menghitung dengan seksama apakah ke-3 sumber
daya ini ia miliki sebagai modal. Jika faktor-faktor itu dimilikinya, maka ia
akan merasa optimis dan keputusan untuk membuat mimpi itu menjadi
tunas-tunas kenyataan sebagai wirausahawan mandiri boleh mulai
dipertimbangkan.
 Mencari mitra dengan “mimpi” serupa
Jika 1 atau 2 jenis sumber daya tidak dimiliki, seorang calon wirausahawan
bisa mencari partner/rekanan untuk membuat mimpi-mimpi itu jadi
kenyataan. Rekanan yang ideal adalah rekanan yang memiliki sumber daya
yang tidak dimilikinya sendiri sehingga ada keseimbangan “modal/sumber
daya” di antara mereka. Umumnya kerabat dan teman dekatlah yang
dijadikan prospective partner yang utama sebelum mempertimbangkan
pihak lainnya, seperti beberapa jenis institusi finansial diantaranya bank.
Pilihan jenis mitra memiliki resiko tersendiri. Resiko terbesar yang harus
dihadapi ketika berpartner dengan teman dekat adalah dipertaruhkannya
persahabatan demi bisnis. Tidak sedikit keputusan bisnis mesti dibuat
dengan profesionalisme tinggi dan menyebabkan persahabatan menjadi
retak atau bahkan rusak. Jenis mitra bisnis lainnya adalah anggota keluarga,
risiko yang dihadapi tidak banyak berbeda dengan teman dekat. Namun,
bukan berarti bermitra dengan mereka tidak dapat dilakukan. Satu hal yang
penting adalah memperhitungkan dan membicarakan semua risiko secara
terbuka sebelum kerjasama bisnis dimulai sehingga jika konflik tidak dapat
dihindarkan, maka sudah terbayang bagaimana cara menyelesaikannya
sejak dini sebelum merusak bisnis itu sendiri.
Mitra bisnis lain yang lebih netral adalah bank atau institusi keuangan
lainnya terutama jika modal menjadi masalah utama. Pinjaman pada bank
dinilai lebih aman karena bank bisa membantu kita melihat secara makro
apakah bisnis kita itu akan mengalami hambatan. Bank yang baik wajib
melakukan inspeksi dan memeriksa studi kelayakan (feasibility study) yang
kita ajukan. Penolakan dari bank dengan alasan “tidak feasible” bisa
merupakan feedback yang baik, apalagi jika kita bisa mendiskusikan dengan
bagian kredit bank mengenai elemen apa saja yang dinilai “tidak
feasible”. Bank juga bisa membantu kita untuk memantau kegiatan usaha
setiap tahun dan jika memang ada kesulitan di dalam perusahaan, bank
akan mempertimbangkan untuk tidak meneruskan pinjamannya. Ini
merupakan “warning” dan kontrol yang bisa menyadarkan kita untuk segera
berbenah. Wirausahawan yang “memaksakan” bank untuk memberi
pinjaman tanpa studi kelayakan yang obyektif dan benar akhirnya sering
mengalami masalah yang lebih parah. Agunan (jaminan) disita, perusahaan
tidak jalan, dan hilanglah harapan untuk membuat mimpi indah menjadi
kenyataan. Kejadian seperti ini sudah sangat sering terjadi, dalam skala
kecil maupun skala nasional. Pinjaman seringkali melanggar perhitungan
normal yang semestinya diterapkan oleh bank sehingga ketika situasi
ekonomi tidak mendukung, sendi perekonomian mikro dan makro pun turut
terbawa jatuh.
 Menjual mimpi itu kepada wirausahawan lain (pemilik modal)
Jika teman atau kerabat yang bisa diajak bekerjasama tidak tersedia (entah
karena kita lebih menghargai hubungan kekerabatan atau persahabatan
atau karena memang mereka tidak dalam posisi untuk membantu) dan tidak
ada agunan yang bisa dijadikan jaminan untuk memulai usaha anda, ada
cara lain yang lebih drastis, yaitu menjual ide atau mimpi indah itu kepada
pemilik modal. Kesepakatan mengenai bagaimana bentuk kerjasama bisa
dilakukan antara si pemilik modal dan penjual ide. Bisa saja pemilik modal
yang memodali dan penjual ide yang menjalankan usaha itu, bisa juga
penjual ide hanya menjual idenya dan tidak lagi terlibat dalam usaha
itu. Jalan ini biasanya diambil sesudah cara lainnya tidak lagi
memungkinkan sedangkan ide yang kita miliki memang sangat layak
diperhitungkan.
Ketiga cara di atas selayaknya dipikirkan sebelum seseorang mengambil
keputusan untuk menjadi wirausahawan. Tanpa pemikiran mendalam,
pengalaman pahit akan menjadi makanan kita. Banyak usaha yang akhirnya
gulung tikar sebelum berkembang. Contohnya, pada tahun 1998, penduduk
Jakarta tentu masih ingat akan trend “kafe tenda” sebagai reaksi atas
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang saat itu banyak terjadi. Tiba-tiba
saja banyak mantan karyawan perusahaan beralih profesi menjadi
wirausahawan. Bahkan usaha tersebut ramai-ramai diikuti oleh pula oleh
para selebritis. Trend ini tidak mampu bertahan lama. Banyak “usaha
dadakan” ini terpaksa gulung tikar. Entah kemana para wirausahawan baru
kita ini akhirnya menggantungkan nasibnya sekarang.
avatar
RoxaR
newbie

Jumlah posting : 57
Registration date : 22.09.08

Lihat profil user http://www.roxar.wordpress.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik